Anak Sang Pemimpin


Berangkat kerja pagi ini, dengan kondisi yang tidak begitu semangat, karena masih sangat pagi dan harus memacu kendaraan di jalanan yang cukup ramai. Di sepanjang perjalanan, saya melihat banyak aktivitas masyarakat seperti biasanya, namun entah mengapa saya tertarik dengan seorang bapak yang mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang cukup lambat.

Saya rasa semua orang sedang berlomba-lomba untuk segera sampai di kantor. Dan yang lebih seru lagi adalah, bapak ini berada di lajur jalan yang akan saya gunakan untuk berbelok ke jalan masuk kantor saya. Ini jelas menghambat saya, orang yang saya bonceng, orang dibelakang saya dan semua orang yang akan menggunakan lajur itu.

Karena masih pagi, dan tidak ingin merusak suasana hati hari ni, saya memilih untuk B aja. Santai, sampai akhirnya, terlintas pikiran dibenak saya. Tentang seorang pemimpin. Kejadian pagi ini, sepertinya ingin mengajarkan sesuatu.

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTp6aIWE8mWhcJV-S1U5sAVOeFrRdIWpQKahzJ2L59TagzPBw4fPemimpin tidak bisa menjadi orang yang B aja. Tidak bisa orang yang rata-rata aja. Kalau pemimpin berada di depan, ia harus bisa membuka jalan, berjalan lebih cepat, dan memacu orang dibelakangnya untuk berjala secepat dirinya. Kalau berjalan dengan kecepatan rata-rata, maka tak ada perubahan dan percepatan yang terjadi. Tak ada percepatan dan perubahan yang terjadi.


Bagian selanjutnya saya teringat dari literatur yang pernah saya baca. Jika seorang pemipin berada ditengah, maka ia harus mampu mengayomi anak buahnya. bagaimana ia harus bisa merangkul orang-orang yang mengikutinya. Jika ia berada di belakang, maka pemimpin harus bisa mendorong orang-orang didepannya untuk berjalan mencapai visi bersama. Memastikan semua stay on one pack.

Mari belajar dari semua hal kecil di sekitar kita,
- Dean Charlos

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masalah Hanyalah Sebuah Prespective

Bangga sama diri sendiri? Hati-hati loh!!

That's how it works