Pengampunan yang Membebaskan
"To forgive is to set a prisoner free...
...a realize the prisoner was you"
Saya setuju dengan anda bahwa mengampuni bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Memang beberapa orang memilih untuk bedamai dengan sakit hati mereka, tapi percayalah ada lebih banyak orang yang sampai saat ini masih nyaman dengan kekecewaan yang mereka bawa. Saya yakin anda mungkin salah satu dari mereka yang masih menyimpan sakit hati, atau setidaknya anda sedang berusaha menemukan cara untuk melupakannya. Dan jika anda bukan salah satu dari kriteria diatas, mungkin anda termasuk dalam golongan orang yang ketiga. Orang yang peduli dengan teman-teman anda yang belum tahu betapa melegakannya memaafkan.
Ada banyak hal yang menyebabkan banyak orang, termasuk anak muda, sangat sulit memaafkan. Semoga ini sesuai dengan apa yang anda rasakan.
1.
Gengsi. Banyak dari kita yang berselisih dengan sahabat
baik kita hanya karena hal sepele. Yang memainkan peran utama dalam scene ini adalah gengsi anda. Ketika persahabatan
yang anda bangun sejak masih TK dari berangkat sekolah bersama, menikmati makan
siang bersama saat SMP , merayakan kelulusan SMA harus berhenti tepat didepan
gengsi yang anda bangun.
Anda enggan memaafkan karena merasa teman andalah
yang bersalah karena meninggalkan anda di resto tempat anda membuat janji
denagnnya. Anda merasa tidak perlu meminta maaf karena seharusnya dialah yang
melakukannya. Anda tidak akan mengorbankan harga diri anda dengan meminta maaf
untuk Sesuatu yang tidak seharusnya anda lakukan.
Disinilah gengsi muncul sebagai tembok besar yang
pandangan anda terhalang. And tidak bisa, bahkan untuk mengetahui apa yang
terjadi dengan sahabat anda dibalik tembok besar itu.
2. Sakit
hati
Duri selanjutnya yang kemudian
memenjarakan pengampunan dari anda adalah sakit hati. Sakit hati ini dapat
berupa perasaan malu ataupun kecewa dan tentunya berbagi ekpresi perasaan
karena anda diperlakukan tidak semestinya.
"Seorang anak laki-laki berusia 17
tahun secara tidak sengaja mendengar sahabatnya menjelekan namanya dihadapan
teman-teman lain karena ia berusaha mendamaikan sahabatnya yang sedang
berselisih. Apa daya maksud baik anak ini malah menjadi bahan bercandaan,
bahkan oleh sahabatnya sendiri."
Anak ini kemudian (seperti
yang sudah saya duga) berhenti dengan sakit hatinya dan memilih untuk tidak
berbicara dengan sahabatnya. Saya rasa sebuah kesedihan terbesar adalah saat
dua orang sudah saling mengenal satu dengan yang lain, tau apa yang disukai,
apa yang ditakuti, apa yang membuat bahagia dan apa yang harus dilakukan,
kemudian berjalan seolah-olah tidak saling mengenal. Padahal mereka mengetahui
segalanya.
Dan sayangnya, banyak anak
muda yang menutup diri terhadap tindakan yang lebih rasional dan lebih memilih
mengikuti apa yang dilakukan anak laki-laki tadi.
Berbeda dengan seorang
siswi sebuah sebuah sekolah mengenah yang memilih tidak ingin berteman dengan
siapapun karena ia merasa terbully dengan keadaan dirinya yang tertutup dan
pemalu ditambah lagi dia bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Dia membawa
benci yang kemudian berkembang menjadi sebuah keacuhan yang bukan main. Dia
bukan gadis sekolah biasa. Dia seorang siswa dengan rasa malu yang berjalan tertunduk
dengan sakit hatinya

Komentar
Posting Komentar